Bdg TodayBreaking NewsNasionalPertanianSosial

Solusi Tepat Guna Bagi Petani: IPB Boyong Inovasi Media Tanam “Zeoponik” ke Desa Cihideung

30views

Bdgtoday.com  / PARONGPONG, BANDUNG BARAT (19 OKTOBER 2026) – Institut Pertanian Bogor (IPB) kembali menegaskan komitmennya dalam menghilirisasi riset kampus langsung ke tengah masyarakat.

Melalui program Dosen Pulang Kampung (DOSPULKAM), tim pakar dari Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPAI) IPB menggelar pelatihan dan edukasi penggunaan media tanam inovatif “Zeoponik” bagi para petani di Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Senin (19/10/2026).

Kegiatan yang terpusat di kawasan sentra tanaman hias Desa Cihideung ini diikuti oleh 35 petani lokal yang membudidayakan hortikultura dan bunga. Bertindak sebagai narasumber utama, Guru Besar IPB Prof. Dr. Ir. Suwardi, M.Agr., dan tim memaparkan secara langsung keunggulan teknologi zeoponik di hadapan para peserta serta jajaran pemerintahan desa yang dihadiri langsung oleh Kepala Desa Cihideung beserta para stafnya.

Mengatasi Permasalahan Media Konvensional Desa Cihideung selama ini dikenal sebagai salah satu produsen utama tanaman hias dan hortikultura di wilayah Jawa Barat. Namun, dalam praktiknya, para petani masih banyak mengandalkan media tanam konvensional seperti campuran tanah, sekam, dan kompos tanpa standar formulasi yang pasti.

Prof. Suwardi menjelaskan bahwa penggunaan media tanam konvensional secara terus-menerus sering kali menimbulkan penumpukan garam akibat pemupukan berlebih (Daya Hantar Listrik/DHL tinggi) serta pemadatan struktur media. Kondisi tersebut menghambat penyerapan hara oleh akar dan menurunkan efisiensi pemupukan maupun penyiraman.

Komposisi Formula dan Mekanisme “Spons Pintar” Zeoponik Untuk menjawab tantangan tersebut, tim peneliti IPB memperkenalkan formulasi khusus zeoponik yang diproduksi dari perpaduan bahan mineral dan organik berkualitas tinggi. Media tanam zeoponik dibuat secara presisi dari campuran mineral zeolit, kompos, cocopeat (sabut kelapa), serta pengayaan pupuk NPK. Perpaduan ini dirancang untuk menciptakan aerasi, kelembapan, serta keseimbangan hara yang ideal bagi pertumbuhan tanaman.

“Inovasi Zeoponik hadir untuk menjawab persoalan media konvensional. Media tanam ini berbasis mineral zeolit yang memiliki Kapasitas Tukar Kation (KTK) tinggi. Dipadukan dengan kompos, cocopeat, dan pupuk NPK, mekanismenya bekerja seperti spons pintar yang menyerap nutrisi dari pupuk, lalu melepaskannya secara perlahan (slow-release) sesuai kebutuhan tanaman. Hasilnya, tanaman tumbuh lebih sehat, seragam, dan penggunaan input seperti air dan pupuk jauh lebih hemat,” terang Prof. Suwardi.

Penggunaan formulasi zeoponik juga terbukti mampu memperpanjang ketahanan warna corak daun pada tanaman hias variegata serta mempercepat masa pembibitan tanaman hortikultura. Sebelum diterapkan di Parongpong, program DOSPULKAM IPB berbasis zeoponik telah sukses dilaksanakan pada pembibitan hortikultura di Boyolali (2024) serta pembibitan tembakau di Temanggung (2025).

Praktik Langsung dan Pendampingan Berkelanjutan Dalam pelatihan ini, para petani tidak hanya mendengarkan teori, tetapi juga diajak melakukan praktik langsung peracikan komposisi zeoponik berbasis zeolit, kompos, cocopeat, dan pupuk NPK. Petani juga diajarkan pemanfaatan zeoponik pada media tray semai maupun polybag untuk meningkatkan persentase keberhasilan pembibitan tanaman hias dan bunga.

Guna memastikan keberlanjutan program, IPB memberikan bantuan percontohan media zeoponik serta memfasilitasi sesi konsultasi dan pendampingan pasca-pelatihan melalui grup komunikasi teknis antara tim dosen dan kelompok tani setempat.
Sambutan Positif dari Warga dan Pemerintah Desa Pelatihan yang meliputi pemaparan materi, demonstrasi formulasi zeoponik, hingga simulasi teknik pembibitan di tray dan polybag disambut hangat oleh warga. Diskusi berlangsung dinamis dengan tingginya antusiasme petani dalam mengajukan pertanyaan seputar aplikasi zeoponik untuk komoditas hias lokal. Kepala Desa Cihideung mengapresiasi langkah konkret IPB yang turun langsung mendampingi warganya. Pihak desa berharap alih teknologi ini dapat terus berlanjut sehingga meningkatkan kualitas hasil panen, efisiensi biaya produksi, (Dfy)*