Info Terkini

Peuyeumisasi, Langkah Mudah Olah Sampah

160views

BDG TODAY / Bandung, Selain Gerakan Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan Sampah), Pemkot Bandung terus mencari cara agar sampah ‎bisa diolah menjadi barang bernilai ekonomi ataupun kebermanfaatan bagi masyarakat. Salah satunya dengan intensif mencoba metode peuyeumisasi.

Metode peuyeumisasi ini berupa pengolahan sampah yang diberi cairan khusus semacam bio activator dan diproses mirip pembuatan makanan khas Sunda ‘peuyeum’.

Menurut Kepala Bidang Kebersihan Dinas Lingungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bandung, Sopyan Hernadi, proses peuyeumisasi dengan cairan ‎bio activator membuat volume sampah menjadi menyusut dan semakin padat. Setelah menyusut, sampah lalu diolah kembali menggunakan mesin hingga berubah jadi bahan bakar padat.

“Sampah dikasih semacam bio activator untuk memperlunak fisik sampah ibarat seperti peuyeum. Setelah agak lembut dicampurkan semacam perekat atau agregat, masuk ke mesin bisa menjadi semacam pelet atau briket,” kata Sopyan di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) Jalan Indramayu, Selasa (5/3/2019).

Sopyan menambahkan, proses peuyeumisasi menghasilkan bahan bakar padat berkualitas cukup baik. Bahkan cukup mumpuni untuk penggunaan skala industri.

“Kalau briket bisa dijadikan bahan bakar seperti kompor. Sedangkan pelet bisa untuk bahan bakar pabrik atau pembangkit listrik tenaga uap. Tapi memang lebih dianjurkan agar digunakan untuk mesin besar karena sudah ada teknologi penyaringan uap hasil pembakarannya nanti,” tambahnya.

Dijelaskannya, untuk proses peuyeumisasi memerlukan waktu sekitar lima hari sebelum diproses menjadi bahan bakar. Selama proses itulah sampah berubah semakin lunak secara perlahan.

Metode peuyeumisasi merupakan metode paling efektif diterapkan di Kota Bandung. Sebab proses pengolahan tanpa harus memilah terlebih dahulu antara sampah organik dengan non organik.

“Peuyeumisasi lebih ke mempercepat proses karena sampah tidak hanya organik tapi bisa mix, tercampur tapi tanpa melalui proses pembakaran. Kalau kaya kompos dan biodigester itu khusus organik, jadi harus ada pemilahan,” ungkapnya.

Dengan sejumlah keunggulan itulah Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana tertarik dengan metode peuyeumisasi. Terlebih, mengingat karakter sampah di Kota Bandung yang masih tercampur antara organik dan non organik ataupun sampah kering dengan basah.

‎”Kita mau melanjutkan program pengolahan sampah lewat peuyeumisasi. Ini salah satu metode pengolahan sampah,” katanya.

Sekalipun kepincut dengan metode peuyeumisasi, namun ia menyatakan, Pemkot Bandung tetap menjajaki beragam cara pengolahan lainnya. Hal ini sudah menjadi komitmen Pemkot Bandung dalam rangka menanggulangi persoalan sampah.

‎”Sebetulnya kita banyak metode, ada biodigester, komposting. Ini kan salah satu. Pada prinsipnya kita coba terus mana yang lebih baik,” katanya.* (ds)